Hai Sobat Sopan!
Adalah suatu pencapaian tersendiri jika Sobat sudah berhasil merintis usaha. Memulai usaha memang tidak mudah. Butuh keberanian mengambil risiko, perencanaan yang matang, tekad yang kuat, serta modal yang cukup. Itu sebabnya, banyak orang yang hanya memimpikannya, tanpa pernah mengambil langkah nyata untuk mewujudkannya.
Namun, setelah usaha berjalan, Sobat juga harus bersiap menghadapi tugas berikutnya. Dalam praktiknya, memastikan usaha bertahan di masa awal lebih menantang daripada saat memulainya.
Dilansir Tempo.co, sekitar 20% hingga 33% usaha kecil gagal dalam tahun pertama. Angka kegagalan ini meningkat menjadi sekitar 50% setelah lima tahun, dan hanya 33 persen yang mencapai 10 tahun atau lebih. Sementara data survei internasional menunjukkan, lebih dari 80% UMKM di Asia tutup di tahun ketiga mereka berdiri.
Ini artinya, sebagian besar usaha tidak bertahan di tahun-tahun awal.
Jika Sobat mengira bahwa usaha yang gagal tersebut sebenarnya adalah usaha coba-coba. Mungkin ada benarnya. Sebagian pelaku usaha memang sengaja melakukannya sebagai strategi untuk meminimalkan risiko dan mencari model bisnis yang paling tepat.
Mereka memulai usaha dengan modal minim, lalu melakukan perbaikan sambil jalan. Jika dirasa usaha mereka nggak memiliki prospek yang bagus, mereka lalu ganti dengan usaha lain yang kira-kira lebih punya prospek.
Tapi siapa pun yang membangun usaha sudah pasti tidak ingin gagal. Mereka memulainya dengan serius. Dengan penuh semangat. Sebagian bahkan ada yang menaruh semua modalnya di usaha yang mereka rintis.
Masalahnya, tidak sedikit pengusaha yang terlalu fokus pada bagaimana memulai bisnis, tetapi kurang memberi perhatian pada fondasi penting yang justru menentukan keberlanjutan usaha. Ada juga pelaku usaha yang tidak menyadari bahwa tahun-tahun awal adalah ujian sebenarnya. Di fase awal ini, penjualannya masih naik turun. Pasarnya juga masih belum jelas bentuknya, jadi wajar kalau arus kasnya masih merangkak.
Nah, dalam kondisi seperti ini sering terjadi pemasukan belum cukup buat nutup pengeluaran. Padahal, biaya operasional tetap jalan. Belum lagi adanya pengeluaran tambahan sekadar buat mengenalkan produk ke pasar. Nggak heran kalau banyak pelaku usaha di posisi ini yang mulai kehilangan arah.
Tulisan ini tidak bermaksud menakuti Sobat. Keadaan sepi yang dihadapi pengusaha di fase awal sebenarnya wajar, jadi tidak perlu terlalu khawatir. Namun, ketika usaha belum juga menunjukkan hasil yang diharapkan, wajar jika Sobat mulai bertanya: bagaimana caranya supaya usaha ini bisa tetap bertahan? Sebab, jika modal terus menipis tanpa pemasukan yang cukup, usaha akan semakin sulit untuk dilanjutkan.
Kenapa Banyak Usaha Gagal di Tahun Pertama
Sobat Sopan, banyak orang sering hanya fokus pada hal-hal besar, seperti ide yang bagus dan modal yang besar. Padahal, justru akumulasi dari hal-hal mendasar yang kerap dianggap sepele sering menjadi penyebab utama usaha gagal.
Berikut beberapa penyebab yang paling sering terjadi:
- Tidak memahami kebutuhan pasar
Ini akar utama kegagalan. Riset CB Insights mencatat 43% startup gagal karena tidak ada kebutuhan pasar. Adapun kehabisan modal (70%) lebih merupakan gejala akhir, bukan akar masalah. Produk bagus saja tidak cukup. Yang terpenting adalah kesesuaian dengan kebutuhan nyata pelanggan. Sayangnya, banyak pengusaha terlalu fokus pada apa yang ingin dijual, tanpa bertanya: apakah ada yang benar-benar mau membelinya? - Pengelolaan keuangan yang buruk
Pengelolaan keuangan yang buruk juga menjadi faktor yang tak kalah krusial. Bahkan ketika produk dibutuhkan pasar, kelola keuangan yang berantakan tetap bisa menjerumuskan usaha. Uang usaha dan pribadi bercampur, arus kas tidak dipantau, dan tidak ada cadangan untuk masa sepi. Akibatnya, usaha yang sebenarnya punya potensi justru berhenti di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar. - Model bisnis belum jelas
CB Insights mencatat 19% startup gagal karena model bisnis yang tidak berkelanjutan. Banyak usaha jalan terus, tapi pelakunya sendiri bingung: sebenarnya untung dari mana? Harga dipasang asal comot, biaya ke mana saja tidak jelas, dan uang masuk pun asal-asalan. Operasional kelihatan lancar, padahal bisa jadi sebenarnya malah boncos. Akibatnya, usaha bisa punya banyak pelanggan tapi tetap merugi karena pemasukan tidak mampu menutup biaya operasional. - Terlalu cepat ingin berkembang
Startup Genome mencatat 74% startup dengan pertumbuhan tinggi gagal karena terlalu cepat berskala. Usaha baru berjalan, tapi sudah ingin langsung besar. Tambah produk, perbanyak stok, bahkan buka cabang, padahal fondasi belum kuat. Alih-alih tumbuh, yang terjadi justru kewalahan mengelola semuanya sekaligus. - Minim strategi pemasaran
Media sosial memang dapat menjadi sarana promosi yang efektif. Namun, sekadar “hadir” tidak cukup. Banyak usaha aktif posting tanpa arah yang jelas, lalu berharap penjualan datang dengan sendirinya. Padahal, pemasaran butuh strategi: siapa targetnya, di mana mereka berada, dan bagaimana cara menjangkaunya. Tanpa itu, promosi hanya jadi aktivitas rutin yang tidak berdampak. - Mental belum siap menghadapi fase sepi
Di awal usaha, wajar kalau penjualan belum langsung ramai. Namun, tidak semua orang siap melewati fase ini. Saat hasil tak kunjung terlihat, rasa ragu muncul, arah terasa kabur, dan keputusan sering diambil karena panik. Fase sepi merupakan bagian dari proses, meski tetap perlu dievaluasi secara jernih. Bisa jadi ini hanya butuh waktu, tapi bisa juga menjadi tanda bahwa ada hal mendasar yang perlu diperbaiki. - Persaingan pasar yang ketat
Saat usaha masuk ke pasar, sangat mungkin sudah ada kompetitor dengan produk sejenis. Mereka bisa saja lebih dulu dikenal, menawarkan harga yang lebih kompetitif, atau memiliki strategi yang lebih matang. Tanpa posisi yang jelas, usaha akan sulit menonjol di tengah banyaknya pilihan yang tersedia. - Lokasi kurang strategis (untuk bisnis offline)
Untuk usaha yang mengandalkan penjualan langsung, lokasi berperan besar. Tempat yang sulit dijangkau, minim lalu lintas, atau tidak sesuai dengan target pasar bisa menghambat penjualan, bahkan sejak awal.
Cara Mempertahankan Usaha
Setelah memahami berbagai penyebab usaha gagal, Sobat bisa mulai melihat apa yang sebenarnya perlu dijaga agar usaha tetap bertahan.
Agar usaha bisa bertahan, yang dibutuhkan bukanlah satu trik instan atau strategi besar yang langsung mengubah segalanya. Justru, yang paling berpengaruh sering kali adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijaga secara konsisten, terutama saat kondisi sedang tidak mudah.
Karena di fase awal, tujuannya sebenarnya sederhana: bukan langsung berkembang pesat, tapi memastikan usaha tetap hidup dan terus berjalan.
Berikut beberapa langkah yang bisa Sobat lakukan agar usaha tetap bertahan:
1. Prioritaskan arus kas (cash flow)
Mendapatkan keuntungan tentu penting. Namun, Sobat juga perlu memastikan usaha tetap punya “bahan bakar”. Seperti yang diungkapkan dalam buku Solusi Pendanaan Usaha, aruskan "darah" kehidupan bisnis. Selama arus kas masih berjalan dan mampu menopang operasional, usaha masih punya kesempatan untuk bertahan dan berkembang.
Ini berarti:
- Uang masuk dan keluar harus jelas
- Pengeluaran perlu dikontrol, bukan sekadar mengikuti keinginan
- Bedakan mana kebutuhan dan mana keinginan usaha
Kadang, keputusan sederhana seperti menunda beli peralatan baru atau mengurangi stok berlebih bisa membuat usaha bertahan lebih lama. Sebab, banyak usaha berhenti bukan karena tidak punya peluang, tetapi karena kehabisan sumber daya untuk terus berjalan.
2. Mulai kecil, tapi pastikan jalan
Tidak semua usaha harus langsung terlihat besar. Justru di awal, yang lebih penting adalah memastikan apakah usaha ini benar-benar berjalan.
Sebab itu, mulailah usaha dari skala kecil. Ini akan memberi ruang untuk belajar tanpa risiko terlalu besar.
Dengan memulai usaha dari kecil, Sobat bisa melihat:
- Apakah produk benar-benar laku
- Apakah orang mau membeli lagi
- Apa yang perlu diperbaiki
Selain itu, memulai dari skala kecil membantu Sobat mengendalikan risiko dan memahami berbagai aspek bisnis tanpa tekanan besar. Usaha pun menjadi lebih fleksibel untuk beradaptasi dengan pasar dan bertumbuh secara bertahap.
Tidak perlu terburu-buru. Sebab, usaha yang tumbuh pelan tapi stabil biasanya lebih kuat dibanding yang cepat besar tapi rapuh.
3. Kenali pelanggan dengan lebih dalam
Sering kali kita merasa sudah mengetahui siapa target pasar, sehingga mengabaikan riset yang lebih mendalam. Padahal, pemahaman tersebut bisa jadi masih sebatas permukaan.
Oleh karena itu, coba gali lebih jauh:
- Kenapa mereka butuh produk ini?
- Masalah apa yang sedang mereka hadapi?
- Apa yang membuat mereka memilih—atau justru tidak memilih—produk yang Sobat tawarkan?
Di sini, usaha bukan lagi soal jualan, tapi soal memahami. Dengan memahami pelanggan lebih dalam, Sobat akan lebih mudah menentukan:
- Cara berkomunikasi dengan mereka
- Strategi promosi yang efektif
- Bagaimana produk dikembangkan
Dan yang paling penting, Sobat tidak lagi “menebak-nebak” dalam mengambil keputusan.
4. Bangun konsistensi, bukan euforia
Semangat di awal itu hampir selalu ada. Yang sulit adalah menjaga ritmenya.
Ada kalanya usaha akan masuk fase sepi. Tidak banyak transaksi, respon biasa saja, bahkan kadang terasa jalan di tempat.
Di sinilah konsistensi diuji. Untuk itu, tetaplah memproduksi, melakukan promosi, dan hadir memberikan pelayanan, meski hasilnya belum terlihat.
Karena dalam banyak kasus, usaha berhenti bukan hanya karena gagal, tetapi karena tidak bertahan cukup lama untuk menemukan cara yang tepat.
Dan sering kali, yang membedakan usaha yang bertahan dan yang tidak bukan soal siapa yang paling hebat, tapi siapa yang mampu bertahan sambil terus beradaptasi.
5. Siap beradaptasi
Tidak semua yang direncanakan akan berjalan sesuai harapan. Dan itu bukan tanda bahwa usaha Sobat salah.
Kadang, yang perlu diubah bukan usahanya, tapi caranya.
Di titik ini, penting untuk berhenti sejenak dan melihat kembali apa yang sudah dijalankan:
- Produk mana yang paling diminati
- Promosi mana yang tidak efektif
- Strategi mana yang perlu diperbaiki
Dari situ, Sobat bisa mulai menyesuaikan langkah dengan lebih terarah.
Beradaptasi bukan tanda tidak konsisten. Justru sebaliknya, ini menunjukkan bahwa Sobat peka membaca keadaan dan cukup fleksibel untuk terus berkembang.
Memperkuat Fondasi Dulu, Baru Berkembang
Banyak pengusaha ingin usahanya cepat berkembang. Penjualan naik, pelanggan bertambah, dan usaha terlihat makin besar dalam waktu singkat.
Keinginan itu wajar. Siapa pun ingin melihat hasil secepat mungkin. Namun, di tengah dorongan untuk tumbuh, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: fondasi usaha.
Sebelum melangkah lebih jauh, fondasi ini perlu benar-benar diperkuat. Yang perlu diperhatikan bukan hanya produk, tetapi juga pemahaman pasar, pengelolaan keuangan yang rapi, serta ritme kerja yang realistis dan bisa dijalani dalam jangka panjang.
Jika fondasinya belum siap, pertumbuhan justru bisa mendatangkan masalah. Biaya mulai naik, tanggung jawab bertambah, sementara pemasukan belum stabil. Alih-alih berkembang, usaha malah jadi mudah goyah.
Di titik ini, penting untuk menahan diri sejenak dan mengevaluasi kondisi usaha sebelum melangkah lebih jauh. Tidak semua fase menuntut percepatan; ada kalanya usaha justru perlu diperlambat agar tetap stabil.
Ketika fondasi sudah cukup kokoh, pertumbuhan biasanya datang lebih tenang. Tidak terasa dipaksakan, lebih stabil, lebih terarah, dan lebih siap untuk dijaga ke depannya.
Mindset yang Perlu Dijaga agar Usaha Tetap Bertahan
Selain strategi dan perencanaan, ada satu hal penting yang sering terlupakan: mindset. Yakni bagaimana Sobat memandang proses menjalankan usaha.
Mamang, menjalankan usaha nggak selalu mulus. Ada hari-hari ketika penjualan ramai dan semuanya terasa ringan. Tapi ada juga masa-masa sepi, saat pelanggan tak kunjung datang.
Padahal, usaha tetap harus berjalan. Pengeluaran terus ada, sementara hasil belum juga terlihat. Di saat seperti ini, lelah mulai terasa. Wajar kalau kemudian keraguan ikut muncul. Mulai mempertanyakan arah, bahkan kemampuan diri sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, wajar jika muncul keraguan. Mulai mempertanyakan arah usaha, bahkan kemampuan diri sendiri.
Tapi coba diingat, tidak semua usaha langsung menunjukkan hasil di awal. Proses setiap orang berbeda, dan itu hal yang biasa.
Kadang, yang dibutuhkan bukan langkah besar atau perubahan drastis. Cukup kemampuan untuk tetap berjalan. Terus melangkah, meski pelan. Tetap mencoba, meski belum pasti. Bertahan, meski belum sesuai harapan.
Semua orang pasti ingin usahanya berkembang. Tapi pertumbuhan sejati butuh fondasi yang kuat dan ketahanan saat melewati masa sulit. Kalau terlalu terburu-buru, hasilnya malah bisa berbalik merugikan.
Penutup
Kalau usaha Sobat masih berjalan sampai hari ini, itu sudah sesuatu.
Mungkin belum besar. Mungkin juga belum sesuai harapan. Tapi di tengah berbagai tantangan, Sobat tetap memilih untuk menjalaninya. Dan itu bukan hal yang mudah.
Akan ada hari-hari terasa lancar. Tapi akan ada juga hari-hari yang melelahkan, penuh ragu, bahkan bikin ingin berhenti. Semua itu bagian dari proses yang hampir setiap pengusaha alami.
Nggak harus selalu cepat. Nggak harus langsung berhasil.
Yang penting, tetap dijalani.
Perbaiki sedikit demi sedikit. Sesuaikan seperlunya. Jalankan dengan ritme yang bisa dijaga.
Selama usaha itu masih Sobat jaga dan jalankan, peluang untuk tumbuh tetap ada. Tapi ingat, bertahan saja tidak cukup kalau tidak ada perbaikan.
Usaha perlu terus dievaluasi. Disesuaikan dengan kondisi.
Dan kalau setelah berbagai upaya ternyata usaha tetap tidak menguntungkan, nggak apa-apa kok untuk mempertimbangkan perubahan arah, atau bahkan berhenti dengan perhitungan yang matang.
Demikian pembahasan kali ini, Sobat Sopan.
Nantikan tulisan menarik lainnya seputar kewirausahaan dan pendanaan usaha di SopanBos (Solusi Pendanaan Bonar Silalahi).

