Hai Sobat Sopan!
Pernah nggak sih ngerasain usaha rame, order masuk terus, pembeli datang silih berganti, tapi pas akhir bulan dicek kok untungnya tipis banget? Trus Sobat ngerasa bingung, ke mana uang hasil penjualannya.
Kelihatannya sih semua berjalan lancar. Dari luar juga orang pasti mikir saat lihat usaha kita rame, “Wah, ini bisnisnya pasti untung besar.” Tapi kenyataannya nggak selalu begitu.
Memang, semakin tinggi tingkat penjualan, idealnya besarnya keuntungan juga ikut naik. Tapi keuntungan nggak cuma dipengaruhi oleh besarnya penjualan. Cara menentukan harga jual dan besarnya margin keuntungan juga ikut menentukan.
Masalahnya, tidak sedikit pelaku usaha yang nggak teliti saat ngitung HPP (Harga Pokok Produksi). Padahal, HPP itu penting banget. Dari situ kita nentuin harga jual, ngitung untung, sampai ngerti kondisi keuangan usaha kita sebenarnya lagi sehat atau nggak.
Masih banyak juga pelaku usaha yang nentuin harga cuma pake perkiraan aja. Atau ikut harga pasaran biar bisa bersaing, tanpa tahu berapa tepatnya biaya dikeluarkan buat menghasilkan tiap produk.
Apa Itu HPP?
Gampangnya, HPP (Harga Pokok Produksi) adalah total biaya yang dibutuhkan buat menghasilkan produk sampai siap dijual. Dari situ, Sobat juga bisa tahu biaya per produknya.
Jadi, HPP itu bukan sekadar tahu keluar uang berapa. Lebih ke angka yang nunjukin sebenarnya Sobat keluar biaya berapa sih untuk menghasilkan tiap produk.
Nah, yang sering kejadian, banyak orang nganggep HPP itu cuma bahan baku aja. Padahal kenyataannya, ada beberapa komponen lain yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah produk, yang juga butuh biaya. Tapi seringnya, biaya-biaya lain itu nggak disadari.
Kenapa HPP Penting untuk UMKM?
Kadang kita mikir, selama penjualan rame, bisnis pasti untung. Padahal belum tentu.
Tanpa HPP yang jelas, sering banget harga jual jadi asal pasang. Umumnya pelaku usaha masang harga terlalu murah karena takut kalo kemahalan, produknya bakalan nggak laku di pasaran. Akibatnya, margin keuntungan jadi terlalu tipis dan uang usaha terasa cepat banget habis.
Makanya banyak yang ngerasa jualannya laku terus, tapi hasil akhirnya kok tipis.
Sebaliknya, kalau HPP dihitung dengan benar, semuanya jadi lebih kebayang. Kita jadi tahu harus pasang harga di angka berapa yang masih masuk akal. Kita juga bisa lihat sebenarnya untungnya berapa, bukan cuma kira-kira.
Yang nggak kalah penting, kita jadi lebih gampang ngontrol biaya. Jadi kalau ada biaya produksi yang mulai kebablasan, bisa langsung ketahuan.
Komponen dalam Penghitungan HPP
Salah satu kesalahan yang sering kejadian di UMKM itu sebenarnya sederhana. Pelaku usaha fokusnya cuma ke bahan baku utama, sementara biaya-biaya kecil lainnya sering kelewat.
Padahal, yang kelihatan sepele itu kalau dikumpulin jadinya banyak juga. Dan tanpa sadar, itu yang bikin keuntungan jadi makin tipis.
Banyak pelaku usaha ngerasa hitungannya sudah benar karena bahan baku utama sudah dicatat. Tapi pas dijalankan, kok uang kas tetap cepat habis.
Begitu dicek lagi, baru kelihatan. Ternyata ada cukup banyak biaya produksi yang selama ini nggak pernah ikut dihitung.
Dan memang, HPP itu nggak cuma soal bahan baku. Ada beberapa komponen lain yang ikut berperan, dari awal produksi sampai produk benar-benar siap dijual ke konsumen.
Berikut beberapa komponen biaya yang perlu Sobat hitung biar HPP lebih akurat.
1. Biaya Bahan atau Material Utama
Ini adalah biaya paling dasar dalam proses produksi. Bentuknya bisa berupa bahan baku, material utama, atau komponen utama yang digunakan untuk membuat produk.
Karena paling terlihat dan paling sering dibeli, komponen inilah yang biasanya selalu dihitung oleh pelaku usaha. Masalahnya, banyak yang berhenti sampai di sini dan menganggap total biaya produksi sudah selesai dihitung.
Padahal masih ada biaya lain yang mestinya ikut dihitung juga.
2. Biaya Pendukung Produksi
Biaya pendukung sering dianggap kecil, jadi tidak terlalu diperhatikan. Misalnya bahan tambahan, alat bantu produksi, perlengkapan kecil, atau kebutuhan operasional selama proses produksi. Nominalnya mungkin tidak besar kalau dilihat satu per satu. Tapi kalau terus keluar setiap hari, totalnya bisa cukup besar dalam sebulan.
Di sinilah banyak UMKM tanpa sadar kehilangan sebagian keuntungan.
3. Biaya Kemasan
Kemasan juga termasuk bagian dari biaya produksi, terutama untuk usaha makanan, minuman, skincare, fashion, atau produk fisik lainnya.
Kadang pelaku usaha hanya fokus pada isi produknya, tetapi lupa menghitung biaya cup, botol, plastik, stiker, label, hingga tas packaging.
Semakin rapi dan menarik kemasan yang digunakan, biasanya biaya produksinya juga ikut naik. Karena itu, komponen ini tetap perlu dimasukkan ke dalam perhitungan HPP agar harga jual tidak salah hitung.
4. Biaya Operasional Produksi
Biaya seperti listrik, air, gas, bensin untuk kebutuhan produksi, atau penggunaan mesin produksi juga sering terlupakan. Padahal semua itu dipakai selama proses produksi berlangsung dan ikut memengaruhi total biaya produksi.
Karena tidak langsung terlihat dalam bentuk produk, biaya operasional produksi sering dianggap bukan bagian dari biaya produksi. Akibatnya, total HPP jadi terlihat lebih kecil dari kondisi sebenarnya.
Kalau dibiarkan terus, keuntungan usaha bisa terlihat besar di atas kertas, padahal aslinya tidak sebanyak itu.
5. Biaya Tenaga Kerja
Saat usaha mulai berkembang dan makin banyak produk yang harus dibuat, pelaku usaha pasti butuh bantuan tenaga kerja. Pada titik ini, biaya tenaga kerja juga perlu dimasukkan ke dalam perhitungan HPP.
Komponen ini mencakup biaya tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses menghasilkan produk, seperti gaji tenaga produksi, pekerja harian, atau pekerja borongan yang membantu proses pembuatan produk.
Biaya tenaga kerja penting dihitung agar pelaku usaha dapat mengetahui total biaya produksi secara lebih akurat dan memahami margin keuntungan yang sebenarnya.
6. Penyusutan Peralatan
Kemungkinan komponen inilah yang paling sering dilupain. Alat produksi seperti kompor, oven, blender, atau mesin kan nggak dipakai selamanya. Semua ada umur pakainya.
Nah, biaya dari alat-alat ini sebenarnya perlu dibagi selama masa penggunaannya, bukan dihitung sekali di awal saja. Meskipun termasuk biaya non-kas alias nggak keluar setiap bulan sebagai uang tunai, komponen ini tetap perlu ikut dihitung sebagai bagian dari biaya produksi. Soalnya tanpa alat itu, produk juga nggak bisa dibuat.
Biar lebih kebayang, coba pakai contoh sederhana.
Misalnya, Sobat beli oven seharga Rp1.200.000, lalu dipakai selama 12 bulan.
Berarti kalau dirata-ratakan, beban per bulannya sekitar Rp100.000.
Angka inilah yang sebaiknya ikut dimasukkan ke biaya produksi tiap bulan. Bukan berarti Sobat harus keluar uang Rp100.000 lagi setiap bulan buat beli oven baru, tapi secara perhitungan, nilai oven tersebut memang perlahan berkurang karena terus dipakai.
Dengan cara ini, hitungan HPP jadi lebih realistis dan nggak terlalu optimis. Karena kalau cuma menghitung biaya yang keluar tunai saja, harga jual bisa jadi terlalu murah tanpa disadari. Padahal di belakang, alat produksi juga ikut “berkurang” umurnya setiap kali digunakan.
Menghitung HPP sebaiknya dilakukan secara detail. Bukan hanya agar harga jual lebih tepat, tetapi juga supaya pelaku usaha benar-benar mengetahui berapa perkiraan keuntungan dari setiap produk yang dijual.
Cara Menghitung HPP Sederhana
Sebenarnya, menghitung HPP itu nggak serumit yang dibayangin. Yang penting tahu cara dasarnya dulu.
Intinya sederhana. Semua biaya produksi dijumlahkan, lalu dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan.
Rumusnya juga cukup gampang:
HPP per produk = Total biaya produksi : jumlah produk yang dihasilkan
Yang perlu diingat, semua biaya yang berhubungan dengan produksi harus ikut dihitung. Bukan cuma bahan baku, tapi juga kemasan, biaya pendukung, sampai biaya operasional selama proses produksi.
Setelah totalnya ketemu, baru dibagi dengan jumlah produk di periode yang sama. Dari situ, Sobat bisa lihat sebenarnya berapa sih biaya rata-rata untuk menghasilkan satu produk.
Di lapangan, terutama di UMKM, hitungan ini kadang perlu disesuaikan. Misalnya, ada produk yang rusak atau gagal produksi, biayanya tetap harus masuk hitungan. Soalnya kalau diabaikan, harga jual bisa jadi terlalu rendah tanpa disadari.
Contoh Perhitungan HPP
Biar lebih kebayang, kita pakai contoh sederhana.
Misalnya dalam satu kali produksi, total biaya yang keluar itu Rp5.000.000.
Dari proses tersebut, Sobat berhasil menghasilkan 1.000 produk.
Kalau pakai hitungan dasar, berarti HPP-nya:
Rp5.000.000 : 1.000 = Rp5.000
Artinya, rata-rata biaya untuk bikin satu produk ada di angka Rp5.000.
Tapi di kondisi nyata, biasanya nggak semuanya berjalan mulus. Ada aja produk yang rusak atau gagal produksi.
Misalnya dari 1.000 produk tadi, ternyata ada 100 produk yang rusak, kadaluarsa, atau tidak layak dijual. Jadi produk yang benar-benar bisa dijual hanya 900 produk.
Di sini banyak yang sering kelewat. Biaya produksi tetap Rp5.000.000, tapi sekarang dibebankan ke produk yang benar-benar layak dijual.
Kalau dihitung lagi, hasilnya jadi:
Rp5.000.000 : 900 = Rp5.556 per produk.
Kelihatannya selisihnya kecil, ya. Tapi kalau kejadian seperti ini terus-terusan, dampaknya ke keuntungan bisa lumayan terasa. Soalnya biaya dari produk yang rusak atau tidak bisa dijual itu tetap ikut terbebani ke produk yang berhasil dijual.
Makanya, angka HPP ini penting banget dijadikan dasar buat nentuin harga jual. Jadi Sobat nggak asal tebak atau cuma ikut harga pasar.
Selain itu, nentuin margin juga jadi lebih aman. Soalnya Sobat sudah tahu biaya sebenarnya dari tiap produk yang berhasil dijual, termasuk beban dari produk yang gagal atau terbuang selama proses produksi.
Cara Menentukan Harga Jual
Setelah HPP ketemu, biasanya pertanyaan berikutnya langsung muncul: “Berarti jualnya di harga berapa, ya?”
Di sinilah banyak pelaku usaha tanpa sadar masih pakai cara yang kurang tepat. Ada yang langsung lihat harga kompetitor, lalu ikut-ikutan. Ada juga yang sengaja pasang harga serendah mungkin, yang penting cepat laku.
Sekilas kelihatan aman. Produk jalan, penjualan rame. Tapi kalau dilihat lebih dalam, bakal kelihatan dampak buruknya bagi usaha.
Harga yang terlalu rendah bikin ruang untung jadi sempit. Lama-lama, bisnis terasa capek sendiri. Sibuk iya, tapi hasilnya nggak terlalu terasa. Bahkan ada juga yang omzetnya sudah besar, tapi tetap susah berkembang karena marginnya tipis.
Padahal, keuntungan itu bukan sekadar “sisa”. Di situlah bisnis punya napas buat bertahan atau bahkan berkembang.
Dari margin, kita bisa nutup kenaikan biaya yang tiba-tiba, punya cadangan kalau ada risiko, sampai jalanin promosi atau kasih diskon tanpa takut rugi.
Makanya, sebisa mungkin harga jangan terlalu dekat dengan HPP.
Misalnya, kalau biaya per produk Rp5.000, lalu Sobat mau mengambil markup 50% dari biaya, maka harga jualnya Rp7.500.
Tapi angka ini bukan patokan kaku. Jadikan ini sebagai titik awal buat ngitung.
Setelah itu, baru dilihat lagi kondisi pasar. Boleh bandingin dengan kompetitor, tapi jangan sampai itu jadi satu-satunya acuan.
Namun, yang juga perlu Sobat pahami, keuntungan usaha itu nggak cuma ditentukan dari HPP aja.
Soalnya setelah produk selesai dibuat, biasanya masih ada berbagai biaya operasional lain yang perlu ditanggung bisnis. Mulai dari biaya promosi, admin, sewa tempat, gaji karyawan nonproduksi, ongkir, sampai kebutuhan operasional harian yang kadang nilainya juga cukup besar.
Makanya, meskipun harga jual sudah berada di atas HPP, selisihnya belum tentu langsung menjadi keuntungan bersih.
Makanya, HPP biasanya lebih cocok dijadikan acuan awal untuk menentukan harga jual sekaligus menjaga margin produksi tetap aman. Setelah itu, harga masih perlu disesuaikan lagi dengan kondisi bisnis secara keseluruhan, mulai dari biaya operasional sampai target keuntungan, supaya perhitungannya terasa lebih realistis dan usaha tetap bisa berjalan dengan baik.
Sederhananya, harga jual yang “sehat” itu bukan cuma yang terasa cocok buat pembeli, tapi juga masih memberi ruang agar bisnis Sobat bisa terus berkembang.
Kesalahan Umum Saat Ngitung HPP dan Nentuin Harga Jual
Kesalahan yang sering dilakukan pelaku usaha adalah merasa sudah menghitung biaya produksi, padahal masih banyak yang terlewat.
Yang paling sering diabaikan justru biaya kecil, seperti plastik, stiker, listrik, atau biaya operasional selama proses produksi. Nilainya kecil, tetapi jika terjadi terus-menerus, dampaknya besar.
Kesalahan lain:
- tidak memasukkan kemungkinan produk rusak, gagal produksi, atau tidak layak dijual,
- menentukan harga terlalu dekat dengan biaya produksi,
- mengikuti harga kompetitor tanpa menghitung biaya sendiri, serta
- tidak memperbarui HPP saat biaya berubah.
Kesalahan-kesalahan ini membuat bisnis terlihat ramai, tetapi keuntungannya tidak terasa.
Tips Agar Perhitungan HPP Lebih Akurat
Kalau mau HPP terasa lebih “kena” dan nggak sekadar angka perkiraan, kuncinya ada di kebiasaan sehari-hari.
Mulai dari hal yang paling dasar dulu, yaitu mencatat semua biaya. Nggak perlu nunggu besar. Justru yang kecil-kecil itu sering lolos dari perhatian, padahal kalau dikumpulin bisa cukup terasa dampaknya.
Lalu, coba biasakan juga untuk memisahkan uang usaha dan uang pribadi. Di awal mungkin terasa ribet, tapi lama-lama justru bikin semuanya lebih jelas. Dengan melakukannya, Sobat jadi bisa lihat kondisi bisnis dengan lebih jujur, tanpa tercampur pengeluaran lain.
Seiring usaha berjalan, jangan lupa juga untuk rutin ngecek dan menghitung ulang HPP. Tentu nggak harus tiap hari, tapi setidaknya per periode. Jadi kalau ada perubahan harga bahan atau biaya lain, Sobat segera bisa menyesuaikan.
Kalau memang ada biaya yang berubah, langsung saja diperbarui. Nggak perlu ditunda-tunda, supaya hitungannya tetap relevan, sesuai dengan kondisi saat itu.
Ini bisa dilakukan dengan sistem pencatatan yang sederhana saja, yang nyaman dipakai. Nggak harus rumit, yang penting konsisten. Karena percuma kalau rapi di awal tapi nggak dilanjutkan.
Kuncinya, jangan cuma fokus ke penjualan yang terlihat ramai. Pastikan setiap produk yang dijual sudah dihitung dengan biaya dan margin yang tepat. Di situlah bisnis bisa bertahan dan pelan-pelan berkembang.
Penutup
Banyak pelaku UMKM yang merasa usahanya berjalan oke. Penjualan ada terus, pesenan juga nggak pernah sepi.
Tapi begitu dihitung lebih detail, hasilnya kadang bikin garuk-garu kepala. Uang memang masuk, tapi keluarnya juga cepet. Dan yang tersisa, ternyata nggak sebanding dengan ramainya penjualan.
Di titik itu mereka baru ngerasa, ada yang perlu dibenahi.
Salah satu yang sering jadi akar masalah ada di HPP.
HPP itu bukan cuma catatan angka-angka doang. Jika Sobat menghitungnya dengan benar, dari HPP Sobat bisa lihat kondisi bisnis yang sebenarnya. Biaya produksinya berapa, perkiraan keuntungannya berapa, dan apakah harga jual yang dipasang selama ini sudah tepat atau belum.
Yang sering kejadian, hal-hal kecil dilewatkan. Padahal, pengeluaran yang kelihatannya sepele itu, jika tidak dimasukkan dalam hitungan, pelan-pelan bisa menggerus margin.
Begitu HPP mulai dihitung dengan benar, cara ngambil keputusan biasanya ikut berubah. Nentuin harga jadi nggak sekadar kira-kira atau ikut pasar. Tapi benar-benar melihat kondisi biaya yang ada.
Usaha yang sehat itu bukan cuma yang kelihatan ramai. Bisnis yang sehat itu keuangannya jelas, marginnya terjaga, dan keuntungannya cukup buat bikin usaha terus jalan, bahkan berkembang pelan-pelan.
Demikian pembahasan kali ini, Sobat Sopan. Nantikan tulisan-tulisan menarik lainnya seputar pendanaan dan pengelolaan usaha di SopanBos (Solusi Pendanaan Bonar Silalahi).

