Logo

Pelajaran dari Pengusaha untuk Karier Karyawan dan Profesional

Hai Sobat Sopan!Dunia kerja saat ini tidak lagi seperti dulu. Beberapa dekade silam, orang-orang masih bisa menggantungkan hidup pada satu...
Sun, 6 September 2026

Hai Sobat Sopan!
Dunia kerja saat ini tidak lagi seperti dulu.

Beberapa dekade silam, orang-orang masih bisa menggantungkan hidup pada satu pekerjaan tetap hingga pensiun. Dari situ, mereka memperoleh penghasilan stabil yang cukup untuk ditabung, membeli aset, sekaligus menyiapkan masa tua.

Saat itu, dunia kerja lebih terstruktur dan lebih bisa diprediksi. Seseorang dari latar pendidikan tertentu relatif mudah mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya.

Peningkatan karier didapat melalui akumulasi pengalaman, durasi pengabdian, dan persyaratan administratif yang baku, jelas, dan (biasanya) bisa dipenuhi. Inilah yang membuat orangtua kita dulu betah bekerja di lingkungan yang sama selama puluhan tahun

Sekarang, situasinya berbeda. Menggantungkan seluruh perjalanan karier di satu tempat tak lagi relevan. Kecuali pada sektor-sektor tertentu, semakin jarang orang bertahan pada satu pekerjaan hingga akhir masa kerja.

Salah satu sebabnya adalah karena pekerjaan tetap bukan lagi jaminan keamanan. Dalam dunia yang berubah dengan cepat dan penuh ketidakpastian ini, perusahaan harus efisien dan fleksibel untuk dapat bertahan.

Banyak perusahaan yang kemudian beralih ke otomatisasi dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Situasi ini kemudian berdampak pada nasib para pekerja.

Kini PHK menjadi hal yang umum terjadi. Mesin banyak mengambil alih pekerjaan manusia karena dianggap jauh lebih efisien, bisa menekan biaya, dan mempercepat pengambilan keputusan.

Tak heran jika ada yang mengatakan, pemutusan kerja bakalan menjadi rutinitas, terutama di perusahaan yang bergantung pada teknologi.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 43.805 pekerja ter-PHK sepanjang Januari–Juli 2026. Angka ini baru menghitung mereka yang terdaftar dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Jumlah sebenarnya karyawan yang kehilangan pekerjaannya bisa jadi jauh lebih tinggi.

Bagi pencari kerja sekarang, kompetisi tidak lagi hanya terjadi dengan sesama pelamar, tetapi juga dengan teknologi yang semakin cerdas dan tangkas dalam menggantikan peran manusia. Perubahan ini membuat sebagian pekerjaan menyusut, sementara kebutuhan akan keterampilan baru meningkat.

Saat kehilangan pekerjaan, akan sulit mencari gantinya jika keahlian Sobat tak lagi relevan dengan kebutuhan pasar. Survei Litbang Kompas pada April 2026 menunjukkan, 77,9 persen responden mengaku sulit dalam mencari pekerjaan di daerahnya.

Terjadilah apa yang disebut dengan paradoks pasar kerja. Di satu sisi, jutaan orang masih kesulitan memperoleh pekerjaan. Tapi di sisi lain, banyak perusahaan justru mengeluhkan kesulitan menemukan tenaga kerja yang sesuai kriteria.

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum bagian Profil Indonesia menyebut, 54 persen perusahaan menghadapi kesenjangan keterampilan, sementara 48 persen kesulitan menarik talenta yang dibutuhkan.

Salah satu sumber pembelajaran untuk membangun karier karyawan dan profesional adalah dunia kewirausahaan. Leslie Yee menyebut empat hal yang bisa dipelajari dari pengusaha, yaitu membangun jaringan (networking), lincah beradaptasi (agility), terus mengasah keahlian (craft), dan membangun ketahanan mental (mental resilience).

Satu hal lain yang juga layak ditambahkan adalah keberanian mengambil risiko secara terukur. Sikap ini merupakan bagian penting dari dunia kewirausahaan dan relevan pula bagi karyawan dan profesional dalam mengelola karier.

1. Membangun Jaringan

Pengusaha tahu bahwa kesuksesan tidak diraih sendirian. Mereka berjejaring untuk memahami pasar, menemukan peluang, mencari pendanaan, dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Terutama di era digital saat ini, kolaborasi dan kemitraan menjadi kunci keberhasilan bisnis. Melalui networking, pelaku usaha berbagi biaya, ide, dan memperbesar corong pemasaran.

Sobat juga perlu melakukan hal yang sama. Bangun relasi, tidak hanya dengan rekan sejawat, tetapi juga di luar kantor.

Jaringan di tempat kerja membantu Sobat memahami perkembangan perusahaan lebih awal. Informasi ini memungkinkan Sobat menangkap peluang sekaligus mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk risiko PHK. Tak jarang, kabar penting sudah beredar lewat kasak-kusuk jauh sebelum pengumuman resmi dirilis.

Sementara itu, jaringan di luar perusahaan dapat membuka akses ke lowongan, rekomendasi, dan peluang karier yang tidak selalu tersedia melalui jalur formal.

2. Lincah Beradaptasi

Dunia bisnis bergerak cepat, dan pengusaha sukses tahu kapan harus mengubah haluan. Kepekaan membaca pasar membuat mereka tak ragu mengambil langkah strategis demi peluang yang lebih menjanjikan.

Tak hanya pengusaha, karyawan pun harus beradaptasi. Seberapa aman posisi Sobat saat ini? Menggantungkan seluruh masa depan pada satu perusahaan jelas punya risiko besar. Terutama saat ini ketika gelombang restrukturisasi dan PHK bisa datang kapan saja.

Sebab itu Sobat perlu melihat ke mana arah industri bergerak. Sektor yang tumbuh dapat menawarkan lebih banyak pilihan pekerjaan, perkembangan karier yang lebih cepat, dan penghasilan yang lebih tinggi

Di Indonesia, digitalisasi dan perkembangan teknologi turut mengubah pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan. Itu sebabnya penting bagi Sobat untuk terus mengembangkan dan menyesuaikan keterampilan.

Namun, masuk ke industri yang tumbuh saja tidak cukup. Sobat juga perlu memiliki keunggulan kompetitif. Maka itu, terus perbarui keterampilan, kuasai teknologi, perluas jaringan, dan bangun reputasi di luar perusahaan.

Jangan menunggu PHK untuk mulai mencari peluang. Siapkan pilihan sebelum Sobat membutuhkannya.

3. Mengasah Keahlian

Memulai dan menjalankan bisnis jelas bukan perkara gampang. Pengusaha mendapatkan keahliannya dari pengalaman panjang, melalui jatuh bangun menjalankan usaha. Kerja keras dan dedikasi itulah yang secara bertahap mengasah intuisi mereka hingga mampu merumuskan strategi terbaik.

Bagi Sobat, prinsip yang sama berlaku. Di tengah dorongan untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, Sobat tetap perlu menyisihkan waktu untuk mengasah keahlian. Dalam persaingan kerja yang semakin ketat, keahlian yang kuat dapat menjadi keunggulan.

Seperti disebut di muka, salah satu penyebab masalah pengangguran adalah kesenjangan antara kompetensi dan kebutuhan dunia kerja. Apalagi, AI semakin banyak menggeser pekerjaan manusia.

Untuk itu, Sobat perlu terus menunjukkan nilai melalui kontribusi dan keahlian yang sulit digantikan teknologi. Tentu, untuk mencapai tingkat keahlian tinggi membutuhkan waktu, latihan, dan konsistensi.

Lihat saja para seniman dan atlet elite. Keahlian mereka bukan hasil latihan sesekali, melainkan buah dari dedikasi dan latihan yang terus-menerus.

4. Ketangguhan Mental

Salah satu pekerjaan yang paling menguras mental adalah wirausaha. Pasalnya, jatuh bangun itu biasa dalam bisnis. Pengusaha sukses mampu mengubah kegagalan menjadi pembelajaran dan titik balik untuk meraih kesuksasan.

Sama halnya dalam karier karyawan. Sobat tentu bekerja dengan baik dan sebisa mungkin menghindari kesalahan. Tapi kerja keras tidak menjamin Sobat kebal PHK. Sehebat apa pun usahanya, efisiensi tetap bisa terjadi.

Saat badai itu datang, merasa sedih dan kecewa adalah hal wajar. Pekerjaan yang selama ini menjadi tumpuan hidup hilang. Namun, larut terlalu lama dalam kekecewaan tidak akan membuka pintu peluang baru. Pilihan terbaik yang Sobat miliki adalah bangkit dan segera melangkah lagi.

5. Keberanian Mengambil Risiko secara Terukur

Selain 4 hal di atas, satu hal yang bisa ditambahkan di sini adalah pentingnya keberanian mengambil risiko.

Pengusaha sukses tidak takut mengambil risiko. Tapi mereka juga tidak asal nekat. Sebelum mengejar peluang, mereka mempertimbangkan potensi hasil dan kemungkinan kerugian. Seberapa besar risiko yang sanggup ditanggung pun dihitung.

Dalam karier, Sobat juga perlu berani mengambil langkah ketika melihat peluang yang lebih baik. Bertahan di pekerjaan yang terasa aman memang nyaman. Tetapi, rasa aman itu belum tentu bertahan selamanya.

Bukan berarti Sobat harus resign tanpa persiapan atau pindah bidang hanya karena melihat peluang sesaat. Cari tahu dulu kondisinya, pertimbangkan konsekuensinya, dan siapkan pilihan lain jika rencana tidak berjalan sesuai harapan.

Dengan begitu, Sobat tidak sekadar berani mengambil risiko. Sobat juga tahu kapan harus bergerak dan bagaimana mengantisipasi jika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Penutup

Sampai saat ini, menjadi karyawan tetap masih menjadi pilihan yang masuk akal untuk mencari nafkah. Penghasilan rutin membantu Sobat memenuhi kebutuhan, menabung, dan menyiapkan masa depan.

Tetapi, jangan menganggap pekerjaan akan selalu aman. Dunia bisnis yang bersifat dinamis, pesatnya perkembangan teknologi, dan naik-turunnya kondisi ekonomi bisa mengubah kebutuhan tenaga kerja. PHK pun bisa terjadi.

Karena itu, Sobat jangan hanya berusaha mempertahankan pekerjaan yang sudah ada. Bangun karier yang tetap punya pilihan. Terus belajar, perluas jaringan, pahami perubahan di industri, dan jangan takut mengambil langkah ketika peluang yang lebih baik datang.

Penting untuk diingat bahwa yang perlu dijaga bukan semata pekerjaan yang Sobat sekarang punya. Yang terpenting adalah Sobat tetap punya penghasilan. Itu sebabnya, fokusnya bukan hanya mempertahankan satu pekerjaan, tetapi bagaimana menjaga kemampuan untuk menghasilkan dalam berbagai kondisi.

Demikian pembahasan kali ini, Sobat Sopan. Nantikan tulisan-tulisan menarik lainnya seputar pendanaan dan pengelolaan usaha di SopanBos (Solusi Pendanaan Bonar Silalahi).

Sampaikan apa yang menjadi kebutuhan Anda
Talk to us
crossmenuchevron-down