Logo

Bergerak agar Lebih Sehat dan Hidup Lebih Seimbang

Sobat Sopan!Semakin banyak orang memakai waktu luangnya buat olahraga. Warga rutin berjalan kaki atau berlari di akhir pekan. Mereka makin...
Thu, 15 October 2026

Sobat Sopan!
Semakin banyak orang memakai waktu luangnya buat olahraga. Warga rutin berjalan kaki atau berlari di akhir pekan. Mereka makin sadar, kebanyakan scroll ponsel nggak bagus buat kesehatan. Sementara aktif bergerak nggak cuma menyehatkan badan, tapi juga menguatkan mental.

Sehat jadi tren baru, bukan lagi sekadar slogan di TV. Di kota-kota besar Indonesia, khususnya di kalangan kelas menengah dan anak muda, waktu luang mulai diisi dengan gym, padel, maraton, hingga Hyrox. Alih-alih menghabiskan waktunya di depan layar, mereka milih beraktivitas di luar rumah. Berolah raga sambil bersosialisasi.

Meningkatnya minat pada olahraga terlihat dari melesatnya pengguna Strava. Di Indonesia, jumlah pengguna aplikasi pelacak kebugaran sekaligus jejaring sosial ini melonjak sepuluh kali lipat. Perempuan yang menggunakannya naik hampir 20 kali lipat, sedangkan Gen Z naik hampir 3 kali lipat dari tahun ke tahun.

Laporan Year in Sport: Trend Report 2024 dari Strava mencatat pergeseran global: kini orang semakin mengejar rutinitas seimbang dan menjadikan olahraga ajang bersosialisasi. Partisipasi klub lari melesat 83 persen di Indonesia. Melihat melesatnya pengguna, pada 16 April 2025 Strava meluncurkan dukungan Bahasa Indonesia.

Sejalan dengan laporan Strava, Survey Asia Pacific Health Priority 2023 oleh Herbalife juga menunjukkan meningkatnya kesadaran ornga akan kesehatan. Seusai pandemi, 77 persen responden di kawasan Asia Pasifik mengubah gaya hidup mereka jadi lebih sehat. Mereka semakin rutin berolahraga, tidur cukup, dan menjaga pola makan sehat. Mereka juga lebih perhatian pada kesehatan mental.

Keinginan hidup lebih sehat paling menonjol di Thailand (93 persen) dan Indonesia (92 persen), disusul Filipina (87 persen) dan Vietnam (86 persen). Di Indonesia, 86 persen responden bahkan mau ngeluarin uang lebih buat hidup lebih sehat.

Perlunya Hidup Seimbang

Saat ini, banyak orang merasakan tekanan akibat pekerjaan. Survei terbaru Health on Demand 2023 terhadap lebih dari 5.200 karyawan di Asia menunjukkan, banyak karyawan Gen Z mengalami masalah mental health dan insecure di lingkungan kerjanya.

Sebut saja, Jaka, seorang karyawan di bidang kreatif. Bekerja di bidang yang sangat dinamis, tekanan yang dirasakannya tidak ringan. Suatu kali project yang dipimpinnya gagal. Ia terpuruk dan butuh dukungan orang terdekat. Tapi saat pulang, alih-alih mendapat dukungan, ia justru menemukan masalah baru di rumah.

Apa yang dialami Jaka menggambarkan bagaimana orang menjalankan banyak peran sekaligus. Satu masalah di kantor bisa terbawa sampai rumah. Sebaliknya, masalah di rumah bisa mengganggu produktivitasnya di tempat kerja. Tekanan akan semakin berat kalau terjadi bersamaan sekaligus. Kalau tekanannya nggak bisa dikelola, dampaknya bisa memengaruhi kehidupannya secara keseluruhan.

Kini pekerjaan memang semakin menuntut. Untuk dapat bertahan, kita harus terus meningkatkan keterampilan dan memenuhi target kinerja. Belum lagi dinamika politik kantor. Dalam kondisi kayak gini, wajar jika orang terdorong untuk memprioritaskan kemajuan karier. Tanpa disadari, kesehatan dan kehidupan pribadi kerap menjadi taruhannya. Akibatnya, karier yang melesat tidak selalu membuat seseorang lebih bahagia.

Bagi banyak orang, keinginan untuk mengejar kesuksesan karier bisa berbenturan dengan kebutuhan menjaga kesehatan fisik dan mental. Tuntutan pekerjaan menyita waktu dan energi. Orang jadi menyepelekan pentingnya istirahat. Keluarga terabaikan. Kehidupan pribadi pun nggak dapat tempat. Kalau ini terus terjadi, tekanan ini bisa memicu kelelahan, menurunkan produktivitas, dan mengganggu kesehatan dalam jangka panjang.

Karena itu, semakin penting bagi orang untuk menjaga hidup seimbang. Kesuksesan karier tidak seharusnya dibayar dengan kesehatan. Mengejar karier tetap penting, tetapi perlu ada batas agar pekerjaan tidak mengambil alih seluruh hidup. Hidup seimbang bukan berarti menurunkan ambisi, melainkan memberi ruang bagi pekerjaan, kesehatan, keluarga, dan kebutuhan diri sendiri.

Hidup Lebih Bahagia dengan Aktif Bergerak

Salah satu cara menjaga keseimbangan hidup adalah dengan lebih aktif bergerak. Pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran sebenarnya sudah lama dikampanyekan, tetapi baru benar-benar digubris sejak pandemi Covid-19 memberi banyak pelajaran. Pandemi membuat hubungan antara kondisi kesehatan dan risiko penyakit terasa lebih nyata dan mendorong banyak orang untuk mengubah gaya hidup.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara aktivitas fisik dan kebahagiaan. Penelitian Bhina Patria (2022) berjudul Modeling the Effects of Physical Activity, Education, Health, and Subjective Wealth on Happiness Based on Indonesian National Survey Data menemukan bahwa hubungan aktivitas fisik dan kebahagiaan.

Dari data 12.051 orang dewasa Indonesia usia 18–65 tahun, Patria menemukan bahwa aktivitas fisik berhubungan positif dengan kesehatan. Sementara kesehatan merupakan salah satu faktor terpenting bagi kebahagiaan. Kesehatan berperan sebagai perantara (mediator) dalam hubungan aktivitas fisik dan kebahagiaan.

Sederhananya, aktivitas fisik membuat kondisi tubuh jadi lebih sehat. Kesehatan ini pada akhirnya berimbas langsung pada rasa bahagia. Saat tubuh terasa bugar, kita bisa menjalani kegiatan sehari-hari dengan lebih nyaman, sehingga kualitas hidup pun meningkat. Ujung-ujungnya, cara kita memandang hidup juga jadi jauh lebih positif.

Berdasarkan penelitian terdahulu, Patria menjelaskan bahwa aktivitas fisik membawa banyak manfaat psikologis. Selain meredakan kecemasan dan mengelola stres, kebiasaan ini juga mengurangi gejala depresi, mendukung fungsi kognitif, serta membuka ruang untuk berinteraksi sosial.

Dari penelitian di atas, melakukan aktivitas fisik bukan sekadar cara menjaga kebugaran tubuh. Menggerakkan badan merupakan bagian dari upaya memelihara kualitas hidup dan mendukung kebahagiaan. Aktivitas sederhana seperti jalan kaki, bersepeda, mengurus rumah, hingga olahraga teratur bisa dengan mudah menjadi bagian dari gaya hidup aktif.

Jangan Sampai Kesibukan Mengambil Alih Kehidupan

Tuntutan pekerjaan menumpuk. Tanggung jawab keluarga menanti. Ditambah keinginan terus mengembangkan karier, membuat waktu untuk diri sendiri pun tersisih. Sepulang bekerja, tenaga sudah terkuras. Akhir pekan? Kadang masih diisi urusan kantor. Akibatnya, olahraga, istirahat, dan waktu bersama orang terdekat kerap terabaikan.

Padahal, hidup tidak hanya tentang pekerjaan dan pencapaian. Filsuf Bertrand Russell dalam In Praise of Idleness (1932) mengkritik pandangan yang menjadikan kerja keras ukuran utama keberhasilan. Baginya, kemajuan produktivitas semestinya memberi manusia lebih banyak kesempatan untuk menikmati kehidupan, bukan justru membuat mereka terus bekerja.

Waktu luang bukan berarti bermalas-malasan. Banyak hal bisa dilakukan tanpa mengejar target atau uang. Sobat bisa menggunakannya dengan membaca buku, berjalan santai, menikmati musik, berolahraga, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. Kegiatan seperti ini memberi ruang Sobat untuk beristirahatdan menikmati kehidupan di luar pekerjaan. Ini juga bisa menjadi sarana bagi Sobat untuk mengembangkan minat.

Perubahan pola kerja, termasuk work from home (WFH) dan kerja hibrida, membuka peluang untuk mengatur waktu dengan lebih fleksibel. Bagi sebagian pekerja, berkurangnya waktu perjalanan ke kantor bisa memberi kesempatan untuk berolahraga atau melakukan kegiatan bersama keluarga.

Tapi, fleksibel bukan berarti seimbang. Bekerja dari rumah justru kerap "mencuri" waktu istirahat kita. Saat batas antara rumah dan kantor makin kabur, jam kerja yang fleksibel justru bikin kita merasa harus selalu siaga merespons pesan atau menyelesaikan tugas kapan saja.

Karena itu, menjaga keseimbangan hidup juga berarti tahu kapan waktunya kita berhenti. Ada waktunya beristirahat, merawat kesehatan, dan melakukan hal yang menyenangkan. Kesehatan dan kehidupan pribadi sama pentingnya dengan pencapaian profesional.

Salah satu cara memulainya? Lebih aktif bergerak. Jalan pagi, sepeda santai di akhir pekan, hingga olahraga bareng teman. Tubuh tetap bugar, mental terjaga, dan kita punya kesempatan lebih untuk berinteraksi sosial.

Hidup seimbang bukan berarti mengurangi ambisi atau mengabaikan tanggung jawab. Kita tetap bisa mengejar kemajuan karier tanpa mengorbankan kesehatan dan hubungan dengan orang-orang terdekat.

Gagasan Russell mengingatkan kita bahwa pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari kehidupan. Jangan sampai kita begitu sibuk bekerja untuk membangun kehidupan yang lebih baik, sampai tidak lagi memiliki waktu untuk menikmatinya.

Demikian pembahasan kali ini, Sobat Sopan. Nantikan tulisan-tulisan menarik lainnya seputar pendanaan dan pengelolaan usaha di SopanBos (Solusi Pendanaan Bonar Silalahi).

Sampaikan apa yang menjadi kebutuhan Anda
Talk to us
crossmenuchevron-down