Logo

Fenomena Downgrade Lifestyle, Saat Kelas Menengah Mulai Berhemat

Hai Sobat Sopan!Banyak pembicaraan di media sosial soal downgrade lifestyle atau menurunkan standar gaya hidup. Sebagian kalangan kelas menengah mulai...
Sun, 25 October 2026

Hai Sobat Sopan!
Banyak pembicaraan di media sosial soal downgrade lifestyle atau menurunkan standar gaya hidup. Sebagian kalangan kelas menengah mulai berhemat. Linimasa digital dipenuhi bermacam cara orang mengetatkan pengeluaran, mulai dari membawa bekal makan siang, belanja barang bekas (thrift shopping), menjual kendaraan, hingga sengaja membatalkan langganan streaming premium.

Jika Sobat jalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau tempat kuliner, coba perhatikan kondisi sekitar. Tempat-tempat itu masih ramai, seperti biasa. Terutama di akhir pekan. Tapi ada yang berubah. Di beberapa restoran, antrean tampak lebih pendek. Semakin jarang juga orang membawa kantong belanja. Pengunjung sering kali hanya melihat-lihat, membanding-bandingkan harga, atau berburu diskon.

Apa yang sebenarnya terjadi? Tampaknya, perubahan perilaku ini bukan semata-mata karena meningkatnya kesadaran akan nilai kesederhanaan. Banyak ulasan mengungkapkan, kelas menengah Indonesia sedang mengalami tekanan daya beli.

In this economy, mengetatkan pengeluaran bukan sekadar pilihan. Ini adalah strategi untuk bertahan bagi sebagian kelas menengah.

Desahan Kelas Menengah

Tren ini sebenarnya menggambarkan kehidupan nyata yang dialami banyak orang. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional menghadapi tekanan yang semakin besar.

Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, tingginya cicilan, hingga pertumbuhan pendapatan yang melambat membuat kelas menengah harus berhitung lebih cermat. Bagaimana tidak? Mereka bukanlah kelas atas yang punya penghasilan berlebih sehingga lebih mampu menghadapi kenaikan harga. Mereka juga belum tentu memenuhi kriteria untuk mendapat bantuan sosial pemerintah.

Menurut BPS, pada tahun 2024 kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah mencakup 66,35% dari populasi Indonesia dan menyumbang 81,49% dari total konsumsi masyarakat.

Memasuki tahun 2025, jumlah kelas menengah justru menurun dari 47,9 juta pada tahun sebelumnya menjadi 46,7 juta, sementara kelompok calon kelas menengah meningkat menjadi 142 juta. Pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar PDB, yakni sebesar 53,88%.

Artinya, ketika daya beli kelas menengah melemah, mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional juga akan kehilangan tenaga.

Mohammad Nur Rianto menyebut beberapa faktor yang memunculkan tekanan terhadap kelas menengah.

Pertama, kenaikan harga kebutuhan yang lebih cepat daripada kenaikan gaji. Harga berbagai kebutuhan, mulai dari pangan, pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga perumahan, terus menjadi beban. Kenaikannya mungkin masih terkendali, tapi bagi kelas menengah, dampaknya tetap terasa.

Kedua, ketidakpastian pekerjaan. Transformasi ekonomi digital memang menciptakan peluang baru, tetapi juga mengubah banyak jenis pekerjaan. Dulu, punya pekerjaan tetap biasanya dianggap sebagai jaminan sampai hari tua. Kini, perusahaan mulai beralih ke otomatisasi, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), atau melakukan restrukturisasi. PHK pun menjadi kekhawatiran banyak pekerja.

Ketiga, tingginya cicilan rumah tangga. Rumah, kendaraan, pendidikan anak, hingga kebutuhan konsumsi sering kali dibiayai melalui kredit. Ketika pendapatan tidak tumbuh sesuai harapan, cicilan terasa semakin berat. Menyisihkan uang untuk kebutuhan lain pun menjadi lebih sulit.

Keempat, perubahan struktur ekonomi. Ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir. Tapi pertumbuhan itu belum sepenuhnya menciptakan lapangan kerja berkualitas dalam jumlah yang memadai. Sebagian pekerjaan masih menawarkan upah relatif rendah. Akibatnya, semakin sulit bagi sebagian orang untuk naik kelas, sementara mereka yang sudah berada di kelas menengah pun menghadapi risiko turun kelas.

Naiknya kebutuhan yang sulit dikompromikan membuat sebagian kelas menengah harus mengerem pengeluaran. Salah satunya dengan mengurangi belanja tersier. Bagaimanapun, salah satu ciri kelas menengah adalah kemampuannya membeli barang dan jasa di luar kebutuhan pokok. Di sisi inilah mereka bisa berhemat.

Dengan tanggungan yang semakin berat, gaya hidup lama susah dipertahankan. Perlu ada penyesuaian. Pengeluaran dikurangi di sana-sini agar beban terasa lebih ringan dan mereka tetap bisa melangkah.

Tanda Kesuraman?

Apakah fenomena downgrade lifestyle ini menjadi tanda bahwa hidup kita sedang suram? Tidak, Sobat.

Sebagai orang Indonesia, kita punya kelebihan dibandingkan banyak orang di belahan bumi lain: kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sisi positif. Banyak orang asing yang tinggal di Indonesia kagum akan hal ini. Itu juga salah satunya yang membuat mereka tertarik dengan kita.

Sisi positif dari fenomena ini adalah bahwa media sosial kita kini mulai memberi tempat bagi hal-hal yang biasa. Sebelumnya, media sosial adalah tempat memamerkan pencapaian dan flexing. Bermain salju di Eropa, makan daging wagyu, atau mengoleksi barang edisi terbatas yang harganya... wuih! Kita pun hanya mau menampilkan hal-hal terbaik di media sosial.

Tapi kini, banyak orang juga tertarik pada unggahan tentang kehidupan biasa. Dunia maya mulai memberi tempat bagi hal-hal yang sebelumnya mungkin disembunyikan. Di tengah dominasi kemewahan dan pameran pencapaian, muncul cerita-cerita yang lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Orang tidak lagi malu menceritakan kesulitan yang mereka alami dan bagaimana mereka berusaha menghadapinya. Unggahan semacam ini mendapat dukungan dari orang-orang yang merasa senasib sepenanggungan. Banyak yang merasa keluh-kesah mereka ikut terwakili. Mereka tidak sendirian.

Maka, warganet semakin akrab dengan unggahan yang menguatkan sekaligus menginspirasi itu. Jika tekanan hidup semakin terasa, jangan cemas. Pahami saja kondisimu, lalu downgrade gaya hidupmu sesuai kemampuan. Tidak semua keinginan harus dipenuhi sekarang. Dan lanjutkan hari-harimu.

Berhemat Saja Tidak Cukup

Downgrade lifestyle bisa membantu Sobat bertahan. Tapi penurunan itu ada batasnya.

Pengeluaran hanya bisa dikurangi sampai titik tertentu. Kita tetap perlu makan. Membayar tempat tinggal. Memenuhi kebutuhan keluarga. Dan menyiapkan masa depan. Ada pos belanja yang bisa kita pangkas atau bahkan kita hilangkan. Tapi ada juga yang wajib ada. Sementara harga-harga bisa terus berubah dan kebutuhan hidup tidak selalu semakin murah.

Karena itu, selain mengatur pengeluaran, Sobat juga perlu memikirkan cara meningkatkan pendapatan. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari cara untuk berhemat, tetapi lupa meningkatkan kemampuan untuk mendapatkan penghasilan.

Tentu, ini tidak selalu mudah. Tidak semua orang bisa langsung mendapat pekerjaan yang lebih baik, meminta kenaikan gaji, atau membuka usaha sampingan. Namun, kita tetap bisa mulai dengan memperkuat hal-hal yang ada dalam kendali kita: meningkatkan keahlian, memahami kebutuhan pasar, memperluas jaringan, dan belajar mengenali peluang.

Bagi karyawan dan profesional, misalnya, bekerja dengan baik saja belum tentu cukup. Kita juga perlu memahami nilai yang bisa kita berikan, masalah apa yang bisa kita selesaikan, dan keahlian apa yang membuat kontribusi kita semakin dibutuhkan. Semakin besar kemampuan kita memberi nilai, semakin terbuka pula peluang untuk meningkatkan pendapatan. Tentu, hasilnya tidak selalu langsung terlihat dan tidak ada jaminan bahwa setiap upaya akan berhasil.

Kita juga bisa belajar dari cara pengusaha memandang pekerjaan dan peluang. Mereka terbiasa mencari kebutuhan yang belum terpenuhi, menemukan cara untuk memberikan solusi, dan menghitung bagaimana usaha mereka menghasilkan pendapatan. Cara berpikir semacam ini tidak hanya berguna bagi orang yang ingin berbisnis. Karyawan dan profesional pun bisa menerapkannya dalam mengembangkan karier.

Lalu, apa saja yang bisa dipelajari dari dunia usaha untuk menghadapi tantangan karier? Sobat bisa membaca artikel Pelajaran dari Pengusaha untuk Karier Karyawan dan Profesional.

Mengelola keuangan bukan hanya soal bagaimana mengeluarkan uang lebih sedikit. Sobat juga perlu membangun kemampuan agar bisa menghasilkan lebih banyak. Berhemat membantu kita menjaga apa yang sudah dimiliki. Meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan membuka peluang untuk memperbaiki keadaan.

Demikian pembahasan kali ini, Sobat Sopan. Nantikan tulisan-tulisan menarik lainnya seputar pendanaan dan pengelolaan usaha di SopanBos (Solusi Pendanaan Bonar Silalahi).

Sampaikan apa yang menjadi kebutuhan Anda
Talk to us
crossmenuchevron-down