Logo

Mikrodrama China yang Kian Dicinta

Hi Sobat Sopan!Jika Sobat aktif di media sosial, pasti pernah nemu potongan drama China (dracin) berdurasi pendek. Ceritanya bergerak cepat,...
Thu, 13 August 2026

Hi Sobat Sopan!
Jika Sobat aktif di media sosial, pasti pernah nemu potongan drama China (dracin) berdurasi pendek. Ceritanya bergerak cepat, penuh kejutan, dan langsung memainkan emosi sejak awal. Bikin Sobat sulit berhenti menonton.

Inilah mikrodrama China berformat vertikal (9:16). Di negara asalnya, tayangan ini disebut duǎnjù atau “drama pendek”. Setiap episode umumnya berdurasi sekitar dua menit. Temanya mulai dari romansa, konflik keluarga, balas dendam, hingga perubahan nasib ala Cinderella modern. Ceritanya juga kerap menggunakan pola kelahiran kembali, perjalanan waktu, dan identitas tersembunyi.

Format ini mengandalkan alur cepat yang dipenuhi konflik, plot twist, dan cliffhanger. Semua itu membuat penonton penasaran dan ingin segera lanjut nonton episode berikutnya. Meski durasi per episode sangat singkat, satu judul bisa mencapai puluhan episode dengan total durasi 90–180 menit, menyamai durasi film layar lebar.

Kini, duǎnjù telah merambah berbagai negara, termasuk Indonesia. Potongannya mudah ditemukan di TikTok, Instagram, hingga YouTube. Teaser di media sosial digunakan untuk menarik perhatian, lalu penonton diarahkan ke aplikasi untuk membuka episode berikutnya melalui pembayaran atau pembelian dalam aplikasi.

Mikrodrama China pun berkembang menjadi salah satu tren hiburan digital yang tumbuh paling pesat di dunia.

Daya Tarik Mikrodrama China

Jika dilihat dengan saksama, mikrodrama China menawarkan formula yang berbeda dari drama Jepang, Korea, maupun drama China konvensional yang lebih dulu dikenal luas di dunia.

Dracin tidak mengandalkan kompleksitas cerita atau kedalaman karakter. Banyak di antaranya justru menawarkan alur yang sederhana, konflik yang mudah dikenali, serta visual yang memanjakan mata: latar yang menarik, busana modis para tokoh, dan pemeran yang rupawan.

Paduan durasi yang sangat singkat, ritme serba cepat, cerita sederhana, dan visual menarik ini terbukti ampuh memikat penonton. Tiap episodenya mudah dinikmati di sela kesibukan, pas dengan kebiasaan generasi digital yang gemar mengonsumsi video pendek di handphone.

Seperti dicatat akademisi China Tang Yonghua, durasi episode dan tempo cerita mikrodrama cocok dengan kebiasaan pengguna ponsel. Sistem algoritmanya pun terus menyajikan tayangan yang sesuai minat penonton. Hasilnya, penonton jadi gampang berpindah dari satu cerita ke cerita lain dan betah nonton lebih lama.

Alur mikrodrama bergerak cepat, dengan konflik dan tantangan yang terus bermunculan. Tang bahkan menyebut ritme mikrodrama mirip video game: tokoh utama menghadapi rintangan demi rintangan, sementara penonton ikut menikmati sensasi “naik level” dan mengalahkan musuh.

Sebagian besar kisahnya mengikuti formula yang berulang dan mudah dikenali. Seseorang yang semula hidup susah tiba-tiba mengalami serangkaian peristiwa yang mengubah nasibnya. Ia bisa mendapat keberuntungan, bertemu orang kaya dan berkuasa, atau ternyata memiliki identitas yang selama ini tersembunyi.

Menurut Tang, pola ini menghadirkan fantasi bahwa orang biasa pun bisa mengubah nasib jika mendapat kesempatan. Caranya bisa macam-macam, mulai dari perjalanan waktu dan kelahiran kembali hingga kekuatan supranatural, sistem khusus, atau tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya berasal dari keluarga kaya.

Ada pula kisah tentang orang yang semula diremehkan, lalu menjadi kaya dan berbalik membuat mereka yang pernah mencibirnya terdiam. Melihat tokoh utama yang sengsara, diremehkan, atau diperlakukan tidak adil lalu tiba-tiba membalikkan keadaan memberi penonton kepuasan yang sulit diperoleh dari kehidupan sehari-hari.

Di sinilah kepuasan emosional menjadi penting. Menurut Tang, mikrodrama memang tidak terlalu mengejar kedalaman cerita, tetapi lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan emosional penonton.

Tokoh utama biasanya memiliki kepribadian yang konsisten dan emosi yang lugas. Pengkhianatan tidak mudah dimaafkan, tokoh antagonis sering kali tidak diberi kesempatan untuk menebus kesalahan, dan pembalasan datang dengan cepat. Penonton tidak perlu menunggu terlalu lama untuk melihat ketidakadilan dikoreksi.

Tak heran jika cerita tentang kekayaan, status sosial, dan perubahan nasib menjadi formula yang disukai penonton. Tokoh yang semula dipandang sebelah mata tiba-tiba bangkit, membuktikan kemampuan atau identitasnya, lalu membuat orang-orang yang meremehkannya menyesal.

Ada kepuasan lain yang ditawarkan mikrodrama. Tang mencatat bahwa penonton bisa ikut berempati dengan karakter, tetapi pada saat yang sama merasa lebih unggul secara emosional dan intelektual. Mereka bahkan bisa menertawakan adegan yang terasa absurd, sambil membayangkan bahwa mereka sendiri akan lebih pintar dalam menghadapi situasi serupa.

Melalui mikrodrama, China menunjukkan bahwa cerita sederhana pun bisa begitu memikat ketika disajikan dengan tempo cepat dan emosi yang kuat. Penonton dapat segera larut dalam konflik, ikut berharap pada perubahan nasib tokoh utama, lalu merasakan kepuasan ketika keadaan berbalik.

Layar Kecil, Peluang Besar

Mulai berkembang di China sekitar 2018, mikrodrama tumbuh pesat bersama popularitas platform video pendek. Popularitasnya semakin melonjak pada 2020, ketika pandemi Covid-19 mengubah pola konsumsi hiburan.

Seperti dikutip Katadata dari media teknologi China TMT Post, pandemi juga memukul industri film China, dengan produksi dan proyek film banyak terhenti. Kondisi ini turut mendorong sebagian pelaku industri melirik mikrodrama, yang menawarkan biaya produksi lebih rendah dan waktu produksi lebih singkat dibandingkan film atau serial konvensional.

Kini, skala pasar mikrodrama sulit diabaikan. Menurut Nu'a Bon dalam Yale Journal of International Affairs, belanja konsumen untuk mikrodrama di China pada 2024 telah melampaui 50 miliar yuan (sekitar US$7 miliar). Untuk pertama kalinya, nilainya juga melampaui pendapatan box office bioskop China. Mikrodrama pun bukan lagi sekadar ceruk hiburan digital, tetapi telah menjadi pasar konten yang signifikan.

Besarnya pasar domestik menjadi pijakan bagi ekspansi ke luar negeri. Hingga 2026, model ini telah berkembang di Korea Selatan, Asia Tenggara, dan Amerika Serikat.

Teknologi AI turut mempercepat proses adaptasi untuk pasar luar negeri. Dubbing dan sinkronisasi bibir yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu kini dapat dipangkas menjadi hitungan hari atau bahkan jam, sehingga satu produksi lebih mudah disesuaikan untuk berbagai pasar.

Peluang bisnisnya pun besar. Omdia memperkirakan pendapatan global mikrodrama mencapai US$11 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi US$14 miliar pada akhir 2026. Dari jumlah tersebut, US$3 miliar diperkirakan berasal dari pasar di luar China, dengan AS kini menjadi pasar internasional terbesar.

Di Amerika Serikat, pendapatan mikrodrama diperkirakan mencapai US$819 juta pada 2024 dan diproyeksikan melonjak menjadi US$3,8 miliar pada 2030.

Menurut analisis Omdia atas data penggunaan seluler dari Sensor Tower, pada kuartal IV 2025, pengguna di AS menghabiskan rata-rata 35,7 menit per hari di aplikasi mikrodrama ReelShort, lebih lama dibandingkan Netflix (24,8 menit), Amazon Prime Video (26,9 menit), dan Disney+ (23 menit).

Minat terhadap mikrodrama juga tinggi di Indonesia. Survei IDN Research Institute dalam Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026 (IMGR 2026) mencatat 61% Milenial dan Gen Z menonton mikrodrama hampir setiap hari atau beberapa kali dalam seminggu, sementara hanya 8% yang belum pernah menonton.

Minat tersebut turut mendorong perusahaan lokal membidik pasar mikrodrama. IDN Media dan Emtek menghadirkan layanan mikrodrama di platform mereka, sementara MNC meluncurkan V+Short, platform khusus mikrodrama, pada 2026.

Di balik pesatnya pertumbuhan mikrodrama, ada model produksi yang sangat efisien. Penggunaan AI memangkas biaya dan mempercepat proses produksi. AI digunakan berbagai tahap, mulai dari penulisan naskah dan penyuntingan hingga penciptaan aktor virtual. Sementara proses syutingnya hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu hingga 10 hari.

Bagi industri yang mengandalkan volume, semakin cepat dan murah sebuah cerita dibuat, semakin banyak judul yang dapat diproduksi dan diuji di pasar.

Keunggulan ini diperkuat oleh data penonton. Platform dapat melihat respons terhadap setiap judul, lalu mengoptimalkan cliffhanger, tempo emosional, dan alur cerita untuk mempertahankan penonton dan mendorong transaksi. Produksi, pengujian, dan monetisasi pun berlangsung dalam satu siklus yang relatif cepat.

Dengan kombinasi biaya produksi yang relatif rendah, siklus produksi yang cepat, monetisasi langsung kepada penonton, pemanfaatan AI, dan distribusi global, mikrodrama China telah berkembang jauh melampaui sekadar format hiburan pendek.

Model ini menawarkan pendekatan baru dalam memproduksi, mendistribusikan, dan memonetisasi konten, sekaligus berpotensi menjadi alternatif yang semakin kuat bagi film dan serial televisi konvensional.

Memasuki Babak Baru

Industri mikrodrama China kini memasuki babak baru. Pada 1 Juni 2026, Administrasi Nasional Radio dan Televisi China (NRTA) meluncurkan kampanye khusus selama dua bulan untuk menertibkan berbagai konten bermasalah. Salah satu yang menjadi sorotan adalah tayangan yang mengagungkan uang dan memamerkan kekayaan.

Penertiban juga menyasar konten yang dianggap berbahaya bagi anak-anak, pornografi terselubung, pandangan tentang perkawinan yang menyimpang, sisa-sisa feodalisme, kekerasan dan balas dendam, hingga judul-judul vulgar. Pelanggaran hak cipta dan pembajakan juga menjadi sasaran.

Dalam kampanye ini, otoritas penyiaran di tingkat provinsi diminta memperketat pengawasan melalui inspeksi dan pemeriksaan acak. Platform digital dan perusahaan produksi juga diwajibkan memeriksa konten mereka sendiri serta segera memperbaiki atau menindaklanjuti tayangan yang bermasalah.

Di sisi lain, pemerintah China tidak ingin penertiban ini menghambat pertumbuhan industri. NRTA juga mendorong lahirnya mikrodrama berkualitas yang mengangkat kehidupan nyata, mencerminkan perkembangan zaman, menampilkan kekayaan budaya China, dan membawa nilai-nilai positif.

Pengawasan pun tidak akan berhenti setelah kampanye dua bulan tersebut berakhir. NRTA berencana menerapkan pemantauan secara rutin dan terus menyempurnakan aturan untuk menciptakan lingkungan konten audiovisual daring yang lebih sehat.

Langkah ini juga bukan titik awal pengetatan. Sejak 2024, regulator China telah memperkuat pengawasan terhadap mikrodrama, termasuk memperketat pemeriksaan konten dan meningkatkan tanggung jawab platform dalam memastikan tayangan yang mereka distribusikan sesuai dengan aturan.

Singkatnya, pemerintah China tetap mendorong perkembangan industri mikrodrama, tetapi pertumbuhannya harus berjalan beriringan dengan pengawasan konten yang semakin ketat.

Penutup

Fenomena mikrodrama China bukan sekadar tentang tontotan yang dibuat dalam durasi pendek. Format ini menunjukkan perubahan besar dalam cara konten diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi, dan menghasilkan uang.

Cerita tidak lagi harus dibuat dengan biaya mahal atau membutuhkan waktu panjang untuk menemukan penontonnya. Konten dapat dibuat, diuji, dan dikembangkan berdasarkan respons pasar.

Bagi Indonesia, perkembangan ini layak diperhatikan bukan hanya sebagai tren hiburan, tetapi juga sebagai peluang bisnis. Besarnya basis pengguna internet dan penonton video pendek di Tanah Air menjadi modal kuat bagi lahirnya mikrodrama lokal.

Tantangannya adalah apakah industri nasional mampu melampaui sekadar meniru formula China dan mengemas kekayaan cerita serta budaya lokal menjadi produk yang berdaya saing global.

Sebab, dalam industri yang bergerak secepat mikrodrama, keunggulan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya biaya produksi. Yang lebih penting adalah kemampuan menemukan cerita yang tepat, menyasarkannya kepada penonton yang tepat, dan menyajikannya pada waktu yang tepat.

Demikian pembahasan kali ini, Sobat Sopan. Nantikan tulisan-tulisan menarik lainnya seputar pendanaan dan pengelolaan usaha di SopanBos (Solusi Pendanaan Bonar Silalahi).

Sampaikan apa yang menjadi kebutuhan Anda
Talk to us
crossmenuchevron-down