Logo

Pembayaran Digital Makin Mudah, Apakah Kita Jadi Lebih Konsumtif?

Hai Sobat Sopan!Apakah Sobat masih menggunakan uang tunai saat belanja? Kalau Sobat perhatikan sekarang semakin jarang orang menggunakan uang tunai....
Wed, 23 September 2026

Hai Sobat Sopan!
Apakah Sobat masih menggunakan uang tunai saat belanja? Kalau Sobat perhatikan sekarang semakin jarang orang menggunakan uang tunai. Pembayaran digital perlahan menjadi bagian dari keseharian.

Untuk membeli kopi di kedai, misalnya, Sobat cukup scan kode QR. Di minimarket, kartu atau ponsel tinggal di-tap. Kita pun makin sering membeli makanan lewat aplikasi di ponsel.

QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) menjadi salah satu inovasi kunci dalam perubahan ini, hasil besutan Bank Indonesia (BI) dan ASPI. QRIS diperkenalkan pada 17 Agustus 2019 dan mulai diterapkan secara nasional pada 2020. Tujuannya untuk menyatukan berbagai macam pembayaran digital ke dalam satu kode QR saja.

Bank Indonesia menyebut, hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS mencapai 65,77 juta, dengan 6,23 juta di antaranya merupakan pengguna baru selama periode Januari–Juni 2026. QRIS juga telah menjangkau 44,86 juta merchant, 96,68 persen di antaranya adalah UMKM.

Pada semester I 2026, penggunaan QRIS melonjak pesat hingga mencapai 12,55 miliar transaksi dengan nilai Rp1,12 kuadriliun. Jumlah transaksi itu tumbuh 93,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tumbuh pesatnya transaksi digital mengubah cara kita betransaksi. Dulu, Sobat harus bawa uang tunai atau kartu ketika ingin belanja. Juga tidak semua toko memiliki mesin EDC untuk melayani pembayaran kartu.

Sekarang, Sobat nggak perlu membawa banyak uang tunai atau repot-repot mencari pecahan yang pas. Asal ada opsi pembayaran digital, semua transaksi beres hanya dari genggaman.

Segala kemajuan ini tentu membuat transaksi menjadi jauh lebih mudah. Dengan kemudahan tersebut, banyak yang menduga kita akan menjadi lebih konsumtif. Benarkah demikian?

Membayar Tanpa Membuat Dompet Tipis

Metode pembayarannya boleh beda, tapi uang Sobat tetap terpakai. Namun, cara Sobat membayarnya bisa membuat pengalaman mengeluarkan uang terasa berbeda.

Dalam psikologi konsumen, ada istilah pain of paying, yaitu rasa nggak nyaman atau “sakit” secara psikologis ketika harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan sesuatu. Semakin terasa nyata pengorbanan uangnya, semakin kuat pula kesadaran bahwa Sobat sedang membayar.

Pada transaksi dengan uang tunai, hal itu terlihat jelas. Setelah membayar, Sobat bisa langsung merasakan dompet menjadi lebih tipis. Ketika hendak membeli sesuatu lagi, Sobat masih ingat uang di dompet sudah berkurang karena sudah dibelanjakan tadi.

Nah, pada pembayaran digital pengalamannya beda.

Sobat buka ponsel, memindai kode QR, memasukkan atau mengonfirmasi jumlah pembayaran, dan transaksi pun selesai. Sobat nggak menyaksikan lembaran uang keluar dari dompet dan berpindah tangan. Yang terlihat hanyalah notifikasi pembayaran berhasil dan angka saldo yang berubah di layar ponsel.

Bukan berarti Sobat nggak tahu bahwa uang telah keluar. Sobat tetap bisa melihat saldo berkurang atau membuka riwayat transaksi. Hanya saja, pengeluaran itu nggak selalu terasa seketika seperti ketika Sobat memakai uang tunai.

Salah satu penelitian yang melihat fenomena ini dalam skala lebih luas adalah “Less Cash, More Splash? A Meta-Analysis on the Cashless Effect” karya Lachlan Schomburgk, Alex Belli, dan Arvid O.I. Hoffmann. Mereka menggabungkan 71 penelitian dengan 392 ukuran efek. Hasilnya menunjukkan adanya cashless effect: rata-rata, konsumen membelanjakan lebih banyak uang saat menggunakan pembayaran non-tunai dibandingkan uang tunai. Efeknya memang kecil, tetapi signifikan secara statistik.

Temuan yang sejalan muncul dalam “The Instant Gratification Trap: How QRIS Fuels Consumptive Behavior in Surabaya's Young Consumers” karya Nyoman Rhania Apsari Dewi, Putu Bunga Amara Sasmita, Zevanya Angelia P., dan Jefri Setyawan. Penelitian ini melibatkan 24 pengguna QRIS berusia 19–23 tahun. Peneliti menemukan bahwa kemudahan pembayaran dapat mengurangi hambatan psikologis untuk berbelanja. Dalam wawancara, beberapa responden mengaku baru menyadari pengeluarannya setelah melihat kembali riwayat transaksi.

Gampang Belanja, Cepat Beli

Transaksi digital bukan hanya mengubah cara Sobat membayar. Cara Sobat sampai pada keputusan untuk membeli juga ikut berubah.

Dengan uang tunai dan kartu, Sobat harus membayar di meja kasir. Misalnya, Sobat butuh membeli sepatu. Sobat pergi ke toko, melihat-lihat barang, dan mencobanya. Setelah menemukan yang cocok, baru Sobat membawanya ke kasir.

Sekarang, sepatu itu bisa muncul di layar ponsel ketika Sobat sedang duduk di rumah. Kalau tertarik, Sobat tinggal membuka halaman produknya. Alamat pengiriman mungkin sudah tersimpan, jadi tidak perlu mengetiknya lagi. Begitu juga kartu atau metode pembayaran yang biasa digunakan, tinggal pilih. Nggak banyak yang harus dilakukan. Transaksi digital jelas menghemat banyak waktu dan tenaga Sobat.

Namun, ada konsekuensi kemudahan ini. Makin panjang proses belanjanya, makin besar peluang kita buat mikir dua kali. Barang yang tadinya terasa penting bisa saja kehilangan daya tariknya setelah beberapa menit. Sebaliknya, kalau transaksi bisa selesai cuma dengan satu klik, kita malah gak sempat berhenti buat mikir ulang.

Bukan berarti orang akan membeli setiap kali prosesnya mudah. Jenis pembeliannya ternyata ikut menentukan. Penelitian Schomburgk dkk. menunjukkan, cashless effect lebih kuat pada conspicuous consumption, yakni konsumsi yang berkaitan dengan penampilan atau status sosial. Efek tersebut lebih kecil ketika uang digunakan untuk kepentingan orang lain, seperti berdonasi atau memberi tip.

Harga yang Sama, tetapi Terasa Berbeda

Cara harga ditampilkan juga bisa memengaruhi cara Sobat melihat sebuah pembelian. Salah satu contohnya adalah pilihan pembayaran secara cicilan.

Misalnya, Sobat ingin membeli alat olahraga seharga Rp1.200.000. Jika harga ditampilkan sebagai satu angka, yang Sobat lihat Rp1.200.000. Namun, jika tersedia pilihan cicilan, yang lebih menonjol bisa saja angka 4 × Rp300.000.

Totalnya tetap Rp1.200.000, dengan catatan nggak ada bunga atau biaya tambahan. Tetapi perhatian Sobat bisa tertuju pada angka Rp300.000, bukan Rp1,2 juta. Bagi sebagian orang, nominal bulanan yang lebih kecil itu dapat membuat pembelian terasa lebih terjangkau.

PayLater menambahkan unsur lain, yaitu waktu. Barang bisa diterima hari ini, tapi Sobat bisa menunda waktu pembayarannya. Jarak waktu tersebut membuat keputusan membeli dan kewajiban membayar terjadi pada dua waktu yang berbeda. Ketika menekan tombol beli, tagihan belum perlu dibayar saat itu juga. Beberapa minggu kemudian, ketika jatuh tempo tiba, barulah kewajiban tersebut harus dipenuhi.

Fasilitas ini semakin diminati masyarakat karena memungkinkan kita membeli barang meski dana belum tersedia. Namun, agar aman menggunakan fasilitas kredit ini, Sobat harus melihat lebih dari sekadar kemampuan membayar satu cicilan. Hal yang wajib diperhitungkan adalah total akumulasi seluruh kewajiban yang akan jatuh tempo, termasuk tagihan-tagihan lain pada periode yang sama.

Kemampuan membeli berarti Sobat bisa memperoleh barang tersebut hari ini. Kemampuan membayar berarti Sobat memiliki dana untuk memenuhi kewajibannya ketika tagihan jatuh tempo. Keduanya nggak selalu sama, dan bisa menjadi masalah jika Sobat membeli lebih dari kemampuan membayar.

Apakah Semua Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Konsumtif?

Sekilas, Sobat mungkin mengira bahwa semakin mudah berbelanja, semakin sering pula melakukannya. Penelitian Schomburgk dkk. memang menunjukkan adanya pengaruh pembayaran non-tunai terhadap pengeluaran. Namun, pengaruhnya relatif kecil, meskipun signifikan secara statistik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital nggak dengan sendirinya membuat Sobat menjadi boros. Pengaruhnya juga nggak sama untuk setiap jenis pembelian.

Efek pembayaran non-tunai terhadap pengeluaran lebih kuat ketika orang membeli sesuatu yang berkaitan dengan penampilan atau status sosial. Sebaliknya, efeknya lebih kecil ketika uang digunakan untuk membantu orang lain, misalnya melalui donasi atau pemberian tip.

Para peneliti juga menemukan bahwa efek tersebut cenderung lebih lemah dalam penelitian yang lebih baru dibandingkan penelitian yang lebih lama. Efeknya juga cenderung lebih kuat pada periode ketika perekonomian sedang tumbuh.

Kalau begitu, apa yang membuat seseorang akhirnya belanja lebih banyak? Pembayaran yang mudah mungkin ikut berperan, tetapi ini tidak lantas membuat kita memutuskan untuk belanja.

Penelitian Dewi dkk. terhadap pengguna QRIS, misalnya, menemukan bahwa kemudahan pembayaran bisa mengurangi hambatan ketika seseorang sudah terdorong untuk membeli. Namun, peneliti juga mengaitkan perilaku konsumtif dengan kontrol diri, keinginan memberi penghargaan pada diri sendiri (self-reward), pengaruh teman sebaya, tren, promosi, dan kondisi emosional.

Temuan tersebut menunjukan mengapa kemudahan pembayaran nggak selalu menghasilkan perilaku yang sama pada setiap orang. Dua orang bisa sama-sama menggunakan QRIS, tetapi keputusan belanjanya berbeda karena dorongan dan situasi yang mereka hadapi juga berbeda.

Jadi, kemudahan pembayaran lebih merupakan salah satu faktor lingkungan yang memengaruhi keputusan kita untuk membeli. Transaksi memang menjadi lebih mudah, tetapi apakah kita jadi beli atau tidak dipengaruhi banyak hal lain.

Meski begitu, pengalaman membayar memang sudah berubah. Sobat nggak lagi harus melihat uang berpindah dari dompet ke tangan penjual. Untuk banyak transaksi, Sobat bahkan nggak perlu membuka dompet sama sekali. Ponsel sudah cukup.

Dulu, uang yang berkurang terlihat dari isi dompet. Sekarang, Sobat mungkin baru menyadarinya ketika melihat saldo rekening atau riwayat transaksi. Perbedaannya mungkin kecil dalam satu transaksi. Namun, jika terjadi berkali-kali dalam sebulan, pengalaman mengeluarkan uang bisa terasa berbeda. Kini semakin sedikit yang harus dilakukan untuk menyelesaikan transaksi.

Uang tunai digantikan kartu. Kartu kemudian terhubung ke ponsel. Dalam banyak pembelian daring, informasi pembayaran bahkan sudah tersimpan. Sobat tinggal memilih barang dan mengonfirmasi pesanan. Layanan seperti PayLater menambahkan pilihan lain: barang dapat diperoleh sekarang, sementara pembayarannya dilakukan kemudian.

Tujuannya tentu membuat transaksi lebih praktis. Sobat nggak perlu lagi melakukan banyak langkah hanya untuk membayar sebuah barang.

Dari sisi perilaku, kemudahan ini menarik karena keputusan membeli dan tindakan membayar menjadi semakin berdekatan. Ketika seseorang sudah menginginkan sesuatu dan proses pembeliannya hanya membutuhkan beberapa sentuhan, jeda untuk berpikir sebelum transaksi pun menjadi lebih singkat.

Bandingkan dengan membeli menggunakan uang tunai. Sobat mengambil uang dari dompet, menghitungnya, lalu menyerahkannya. Jumlah uang yang tersisa bisa langsung terlihat. Ada momen ketika Sobat harus memutuskan apakah uang tersebut jadi digunakan untuk membeli barang itu atau tidak.

Pembayaran digital tidak pernah menghilangkan hak Sobat untuk memutuskan. Cara bayar ini hanya mengubah pengalaman di sekitarnya, mengikis waktu untuk berpikir, dan membuat uang seolah-olah mengalir tanpa terasa.

Demikian pembahasan kali ini, Sobat Sopan. Nantikan tulisan-tulisan menarik lainnya seputar pendanaan dan pengelolaan usaha di SopanBos (Solusi Pendanaan Bonar Silalahi).

Sampaikan apa yang menjadi kebutuhan Anda
Talk to us
crossmenuchevron-down